Minggu, 14 Juni 2015

Kuis Hari Ini

Ada seorang Bapak yang akan mewariskan 7 ekor kambing miliknya kepada ketiga anaknya. Anak pertama mendapat bagian setengahnya. Anak kedua mendapat bagian setengah dari anak pertama dan anak ketiga mendapat bagian setengah dari anak kedua. Bapak tersebut berwasiat agar kambing-kambing yang diwariskan tersebut tidak disembelih, tetapi dipelihara untuk diternakan.
Pertanyaannya : Berapa ekor yang diperoleh oleh masing-masing anak?

Artikel #1



BAGAIMANA POTRET PENDIDIKAN KITA ?

Dalam suatu percakapan di sebuah warung kopi, seorang abang becak memulai obrolannya dengan keluhan semakin besarnya biaya pendidikan anak-anaknya, apalagi menjelang tahun ajaran baru. Disatu sisi dia bersyukur bahwa biaya pendidikan dasar dan menengah dibebaskan pemerintah. Namun besarnya nilai nominal biaya pendidikan yang dibebaskan tersebut tidak sebanding dengan biaya-biaya lain yang justru lebih berat. Anaknya harus memiliki berbagai macam baju untuk sekolah, mulai dari seragam, baju olah raga, baju koko dan baju pencak silat. Belum lagi biaya untuk membeli berbagai jenis sepatu dan buku pelajaran. Sementara itu, seorang pengunjung lainnya menimpali dengan menanyakan komitmen pemerintah yang akan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam upaya mengenyam pendidikan. Percakapan semakin seru yang pada akhirnya mereka menyimpulkan bahwa pemerintah belum mempunyai kebijakan yang serius dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan, bahkan yang ada adalah suatu potret telah terjadinya komersialisasi pendidikan yang orientasinya lebih ke arah mencari keuntungan semata dan dikemas dalam suatu bungkus industrialisasi pendidikan..
Walaupun percakapan tersebut munculnya di sebuah warung kopi yang notabene dihadiri oleh masyarakat kelas bawah, namun tidak bisa dipungkiri, justru merekalah sebenarnya yang secara langsung merasakan dampak dari kesimpangsiuran arah pendidikan negeri ini. Seharusnya, dari mereka-merekalah pemerintah harus bersyukur, karena dari fakta kehidupan seperti itulah kebijakan digodok sematang mungkin, sehingga output dari kebijakan dapat langsung dirasakan manisnya oleh masyarakat, bukan segelintir orang yang berdasi dan tahunya hanya duit, doku dan dolar saja.
Berangkat dari wacana tersebut di atas, memang sudah saatnya kita mencari suatu solusi dari masalah yang ada, bukan mendatangkan masalah dari suatu solusi. Permasalahan pendidikan memang merupakan suatu yang up to date, artinya akan senantiasa ada dan hangat untuk terus dibicarakan. Namun tidaklah bijak, jika yang kita diskusikan hanya masalah-masalah yang ada saja yang menjadi topik pembicaraan. Hujat sana, gugat sini harus kita hindarkan. Bangsa ini, ibarat seekor burung yang salah satu sayapnya sedang luka. Membicarakan hanya pada penyebab lukanya, tidak akan menolong burung tersebut, malahan dapat menyebabkan kematian pada burung tersebut. Memang mencari sabab musabab adalah penting, tapi jauh lebih penting adalah mencari cara atau obat untuk menyembuhkannya.
Apabila kita putar kaset sejarah perjalanan bangsa kita, maka kita akan menemukan suatu fakta historis, bahwa dimana-mana awal sebuah perjuangan dan perlawanan terhadap suatu tiran/kedzoliman berasal dari suatu perguruan, apakah itu pesantren, padepokan, paguron dan lain-lain yang sejenis. Dengan kata lain, sejarah seolah-olah mengingatkan bahwa peran pendidikan sangatlah besar. Dan yang lebih besar lagi, tujuan mereka mendirikan pusat-pusat kegiatan pendidikan, tidak dilandasi oleh mencari keuntungan semata.  Sehingga, buah manisnya dapat kita rasakan sekarang ini, termasuk oleh mereka yang lupa atau bahkan mencoba pura-pura lupa atas fakta historis bangsa ini.

Peran Manusia dalam Pendidikan
Salah satu faktor untuk mencapai tujuan dari pendidikan adalah manusia. Tetapi, manusia macam apa dan bagaimanakah itu? Itulah pertanyaan mendasar yang harus dijawab oleh kita semua. Hal ini, tentunya, adalah suatu yang tidak mungkin kita mengeneralisir semua macam manusia. Kenapa begitu, bukankah pendidikan itu untuk dan dari manusia itu sendiri? Jawabnya adalah BETUL! Tapi itulah masalahnya, kita sering terjebak dengan penegasan tersebut. Kenyataannya, keberhasilan dan kegagalan dari suatu pendidikan, ternyata semuanya disebabkan oleh manusia itu sendiri. Oleh karena itu, kita dituntut untuk mengklasifikasikan, manusia macam apa yang seharusnya terlibat dan dilibatkan dalam dunia pendidikan.
Kant mengatakan bahwa manusia itu akan menjadi manusia – hanya akan dapat hidup sebagai manusia – melalui pendidikan. Hal tersebut mengandung arti bahwa sejak lahirnya kepribadian manusia pada saat dewasa terbentuk dari jenis pendidikan yang diterimanya. Pengertian tersebut banyak dianut oleh para mazhab rasionalitas dan hal tersebut sangat bertentangan dengan para penganut religiusme yang lebih mengedepankan bahwa apa yang akan terjadi pada seorang manusia sudah ditetapkan oleh Tuhan sebagai Sang Pengatur (Cause Prime), sedangkan yang terjadi adalah sistem casualistis (sebab – akibat).
Terlepas dari adanya perbedaan pandangan antar mazhab, kita berkeyakinan bahwa antara manusia dan pendidikan yang diterimanya adalah dua hal yang tidak dipisahkan, satu sama lain saling mempengaruhi. Manusia dapat dipengaruhi oleh pendidikan yang diterimanya, sebaliknya manusia juga dapat mempengaruhi jenis pendidikan apa yang harus dijalankan.
Berdasarkan hal tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa peran dan fungsi manusia dalam pendidikan bisa menjadi subjek sekaligus objek dari pendidikan itu sendiri. Pendidikan akan berjalan baik, jika manusia mampu menjalankan pendidikan sebagai suatu sistem pembentukan diri. Sebaliknya, sistem pendidikan akan menjadi tidak jalan apabila manusia yang terlibat didalamnya tidak mengikuti aspek-aspek yang harus dijalankan dari sistem tersebut yang pada akhirnya Tujuan Pendidikan Nasional ((dalam Pembukaan UUD 1945 alinea 4) yaitu “mencerdaskan kehidupan bangsa” sulit tercapai. Pada akhirnya yang timbul adalah penyelenggaraan pendidikan hanya menjadi sebuah kenyataan realitas yang dilaksanakan untuk menjalankan kewajiban, bukan sebagai suatu kebutuhan.

Anggaran Pendidikan dan Permasalahannya
Negara sudah dengan tegas mengamanatkan bahwa alokasi pendidikan harus ditetapkan sekurang-kurangnya 20%. Namun saying, besarnya alokasi tersebut tidak murni untuk biaya operasional atau kegiatan dalam pendidikan, tetapi sebagian besar terserap pada biaya rutin, seperti: gaji, honor, dll. Dengan kata lain, alokasi untuk biaya pendidikan sebanarnya masih rendah. Bila dikaji secara mendalam, faktor utama masih rendahnya pengalokasian anggaran pendidikan adalah masih rendahnya political will para pejabat negeri ini. Ironisnya, rendahnya alokasi anggaran pendidikan masih juga “digerogoti” (meminjam istilah Iwan Fals) oleh para tikus-tikus berdasi yang membawa virus Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).
Dampak faktualnya adalah seperti yang kita sekarang alami bahwa mutu pendidikan di Indonesia tertinggal jauh dari negara-negara lain. Salah satu kriteria yang dapat dijadikan indikator atau petunjuk tentang rendahnya mutu pendidikan adalah daya serap, yaitu rasio hasil belajar yang dicapai dengan hasil belajar yang diharapkan. Hasil belajar yang dicapai secara nasional masih dibawah 75% (= persentase hasil belajar yang diharapkan) dan indikator lainnya adalah dari prestasi kerja.
Upaya pemerintah dalam rangka memperbaiki penyelenggaraan pendidikan di Indonesia belum optimal, bahkan bisa dikatakan cenderung “berbanding terbalik” dengan kebijakan yang ditetapkan. Misalnya, dalam perekrutan tenaga kependidikan, banyak guru bantu/honorer yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Banyak guru SD yang diangkat dari kalangan tamatan SMA yang notabene belum memahami ilmu pedagogik (pendidikan). Padahal pendidikan dasar (basic education) memegang peranan penting dalam proses pendidikan selanjutnya. Lagi-lagi…!! Alasan yang dikemukakan adalah alasan klise, yaitu terkait dengan masalah alokasi anggaran. Dengan demikian, harapan untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia masih sangat sulit untuk dicapai.
Begitu juga peran instansi pendidikan di daerah yang seharusnya menjadi katalisator dalam mengatasi masalah anggaran pendidikan dalam kenyataannya sering menjadi penghambat. Sudah menjadi rahasia umum bahwa tingkat inefisiensi di instansi pendidikan di daerah masih sangat besar, baik itu dalam aspek implementasinya, maupun sejak dianggarkannya (mark up), misalnya kasus pengadaan buku ajar. Inefisiensi biasanya dikaitkan dengan besarnya “ongkos” yang dipergunakan dalam penyelenggaraan pendidikan lebih besar dari output yang dihasilkan. Hal ini berkaitan dengan: disfungsi tenaga pendidik/kependidikan, penggunaan sarana dan prasarana yang kurang tepat, dan penggunaan dana pendidikan yang kurang/tidak tepat. Terjadinya inefisiensi tersebut diatas, pada akhirnya, terkait dengan masalah efektivitas pendidikan dimana hasil pendidikan yang dicapai tidak sesuai dengan tujuan/sasaran pendidikan yang diharapkan.
Berdasarkan konsepsi nalar diatas, maka dapat kita rumuskan permasalahan dalam lingkup pendidikan di Indonesia. Dengan menggunakan metode system approach (pendekatan sistem), artinya menggunakan kerangka berfikir sistem dengan melihat pendidikan sebagai sebuah sistem, permasalahan yang ada dalam dunia pendidikan di Indonesia bisa diidentifikasi. Sistem pendidikan terkait dengan aspek input-output, yang kita asumsikan sebagai dua buah variabel. Timbulnya masalah menunjukkan adanya hubungan negatif diantara keduanya yang menjadi konstelasi pendidikan nasional. 
Oleh karena itu, dengan menggunakan kerangka berfikir pendekatan sistem, kita dapat membagi masalah-masalah yang timbul, sebagaimana telah dijelaskan secara ringkas diatas, menjadi empat masalah utama, yaitu : masalah partisipasi, masalah efesiensi, masalah efektivitas dan masalah relevansi pendidikan. Dengan demikian, upaya yang harus dilakukan oleh para insan pendidikan, terutama kewajiban pemerintah, untuk mengatasi masalah yang ada di lingkungan pendidikan nasional adalah tidak keluar dari keempat permasalahan yang telah teridentifikasi diatas.   
Wallahu ‘alam bishowab.

Jendela Diskusi

Blog ini dibuat untuk dijadikan ajang saling bertukar pikiran, ide, dan gagasan yang berkaitan dengan pembelajaran matematika. Terima kasih.